Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts
Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts

Wednesday, September 2, 2015

Alasan Kamu Tak Boleh Melewatkan Bantul Ketika Berkunjung ke Yogyakarta

Sebagai salah satu tujuan wisata populer di Indonesia, selalu ada alasan untuk kembali berkunjung ke Yogyakarta. Bahkan meskipun itu menjadi kunjungan ke sekian kali, hampir tak pernah ada kata bosan jika itu tentang Yogyakarta. Banyak yang sudah merasakan hal tersebut. Tetapi, Yogyakarta bukan hanya Malioboro, atau Kraton, atau Prambanan. Hampir di setiap tempat di Yogyakarta adalah tempat yang sayang dilewatkan. Bahkan, daerah-daerah pinggiran Yogyakarta pun mempunyai pesona sendiri, seperti halnya Kabupaten Bantul, yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Yogyakarta.

GUMUK PASIR PANTAI SELATAN
www.asliindonesia.net
Mari kita mulai dengan pesisir selatan dari Kabupaten Bantul. Pantai Selatan sudah terkenal sebagai tujuan wisata yang terkenal. Pantai Parangtritis sudah sangat dikenal di kalangan para pecinta wisata pantai. Namun, pernahkah kamu mencoba sensasi sandboarding di gumuk pasir pantai selatan? Jangan kaget karena gumuk pasir ini tak akan bisa kamu temukan di tempat lain selain di Bantul dan di Meksiko.

EKSOTISME HUTAN PINUS DLINGO
readersblog.mongabay.co.id
Bosan dengan keramaian? Meluncurlah ke Dlingo, sebuah kecamatan di Bantul yang terletak di dataran tinggi. Dan bersiaplah karena banyak tempat yang bisa kamu kunjungi di Dlingo. Hutan Pinus adalah salah satunya. Ketika matahari sangat menyengat di kota Yogyakarta, hawa dingin khas hutan pinus akan langsung menyambutmu begitu kamu sampai di tempat ini. Banyak yang bisa dilakukan di tempat ini. Sekedar bersantai menikmati suasana, atau bahkan melakukan olahraga downhill yang memacu adrenalin pun bisa dilakukan.

PERNAHKAH MELIHAT SUNGAI KABUT?
JIKA BELUM DATANGLAH KE MANGUNAN
onenesia.wordpress.com
Masih di Dlingo, Mangunan merupakan tempat yang paling pas untuk menikmati Sungai Kabut. Datanglah ke Mangunan pagi-pagi sekali, dan lihatlah ke bawah. Kamu akan melihat kabut memanjang seperti sungai yang membelah hijaunya perbukitan dengan garis kurva berwarna putih yang mempesona. Di Mangunan, kamu juga bisa menikmati berbagai buah-buah di Kebun Buah Mangunan.

PUNCAK BECICI, MENIKMATI GEMERLAP KOTA YOGYA DARI PUNCAK BUKIT
mandrapahlawa.blogspot.com
Ketika senja mulai turun di Yogya, cobalah untuk pergi ke Puncak Becici. Dari atas bukit, kota Yogyakarta akan terlihat gemerlap dan tentunya memberikan sensasi yang berbeda dengan Bukit Bintang yang sudah terlalu ramai. Jika kamu adalah penggemar tempat yang tidak terlalu hiruk pikuk, Puncak Becici di Dlingo patut dicoba.

ROMANTISNYA JEMBATAN CINTA DI MANGIR
phimeno.com
Ketika pegunungan Dlingo sudah puas kamu jelajahi, turunlah dari pegunungan dan masuklah ke pedesaan. Di sebelah barat pusat Kota Bantul, kamu akan menemukan sebuah desa tua eksotik. Mangir namanya. Terdengar familiar? Tentu saja karena desa tua ini adalah pusat dari Kraton Mangir yang diperintah oleh Ki Ageng Mangir. Lantas, apa yang ada di desa itu? Selain wisata sejarah yang sangat kental, cobalah berjalan ke barat ke arah Sungai Progo, yang memisahkan antara Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Kamu akan menemukan jembatan romantis dari bambu yang dinamakan jembatan cinta.

NAIKLAH KE KREBET, KAMU AKAN MENEMUKAN TEMPAT INDAH YANG DIHUNI OLEH ORANG-ORANG KREATIF
nirvana.co.id
Tak jauh dari Jembatan Cinta di Mangir, cobalah untuk menemukan sebuah tempat bernama Krebet. Sebuah desa yang ada di dataran tinggi yang mempunyai pemandangan indah. Kamu akan bisa menemukan sebuah jurang dengan air terjun yang indah. Pulosari namanya. Tak hanya itu, di sana kamu bisa menemukan orang-orang kreatif hampir diseluruh bagian desa. Krebet adalah sentra kerajinan batik kayu yang tersohor sampai ke mancanegara. Di sana, kamu bahkan bisa mencoba untuk membatik di media kayu.

HARI SUDAH SORE TAPI KAMU MASIH INGIN BERKELILING?
NIKMATILAH SUNSET DI BENDUNGAN NGANTRU YANG LEGENDARIS
dokumen pribadi
Ketika kamu mengira petualanganmu sudah hampir berakhir bersama dengan tenggelamnya matahari, kamu salah. Masih ada tempat yang bisa kamu nikmati bersamaan dengan tenggelamnya matahari di bumi Bantul. Sebuah bendungan kuno peninggalan zaman kolonial bisa kamu jadikan tempat untuk menikmati sunset. Bendungan yang berdiri gagah di atas Sungai Progo ini memasok air ke kecamatan-kecamatan lain di wilayah Bantul, terutama kecamatan di pesisir selatan. Dengan latar belakang sungai yang berkelok-kelok dan deretan pegunungan, kamu bisa melihat air sungai berubah keemasan ketika senja tiba.

Nah, ketika wisata di pusat kota Yogyakarta sudah terlalu mainstream, wisata ke pinggiran Yogya bisa kamu jadikan referensi. Yang pasti, kota ini selalu mempunyai alasan untuk membuatmu kembali.

TUNGGU, MASIH ADA SATU LAGI YANG SAYANG UNTUK DILEWATKAN
CURUG BANYUNIBO YANG ALAMI AKAN MENGHILANGKAN KEPENATANMU
obyekwisatayogya.blogspot.com
Tapi tunggu, masih ada satu lagi tempat yang sayang untuk dilewatkan. Hanya berjarak sekitar lima kilometer dari Bendungan Ngantru ke arah utara, kamu bisa menemukan sebuah air terjun di tempat yang sangat asri. Apalagi bagi kamu yang hobi bersepeda. Jalanan yang bervariasi; kombinasi tanjakan turunan serta corblok dan tanah berbatu akan langsung menghilangkan kepenatan akibat kegiatan sehari-hari. Curug Banyunibo adalah salah satu curug yang masih sangat alami.

Nah, itulah yang akan membuatmu selalu kembali ke Yogyakarta. Meski tak terlalu luas, kota ini selalu mampu memberikan sesuatu yang baru bagimu dan sahabat-sahabatmu. Dan di kota ini, kisahmu bersama kawan-kawanmu tidak akan pernah terhapus.

Thursday, April 23, 2015

Menyibak Mistisnya Air Terjun Madakaripura

Sebagai salah satu pulau terpadat di dunia, Pulau Jawa masih menyimpan berbagai hal yang menarik untuk ditelusuri termasuk potensi wisata. Dari wisata sejarah hingga wisata alam seperti pantai dan pegunungan, Pulau Jawa mempunyai itu semua. Sebagai salah satu propinsi yang termasuk kaya akan potensi wisata, Jawa Timur juga mempunyai potensi wisata alam yang patut dikunjungi, baik itu oleh para wisatawan biasa ataupun wisatawan yang berminat dengan sejarah lampau bangsa Indonesia.
Adalah air terjun Madakaripura, yang merupakan salah satu tempat wisata misterius yang masih tersisa di Jawa. Bagi para penikmat sejarah Indonesia, Air Terjun Madakaripura konon merupakan tempat persemedian terakhir Mahapatih Gajah Mada. Berlokasi di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, tempat ini juga akan cocok bagi para pendaki gunung.


Salah satu keunikan Madakaripura salah satunya adalah airnya yang tidak pernah habis, sehingga air terjun ini juga dijuluki sebagai air terjun abadi. Selain itu, patung besar yang konon merupakan gambaran dari sang Mahapatih juga akan menyambut setiap wisatawan yang datang ke Madakaripura. 
Sepintas, tempat ini memang tempat yang cocok untuk menenangkan diri, karena letaknya yang cukup terpencil jauh dari keramaian modernitas. Ditambah dengan deru angin dan suara air yang jatuh bergemuruh menambah pekatnya suasana mistis di Air Terjun Madakaripura. Pengunjung disarankan menggunakan mantel ataupun jaket kedap air, karena meskipun air terjun masih cukup jauh, air-air tetesan dari tebing-tebing akan mengiringi wisatawan sepanjang jalan menuju lokasi air terjun.

Di balik air terjun Madakaripura juga terdapat sebuah gua, yang konon merupakan tempat dimana sang Patih mencapai kemuliaan tertinggi, yang menurut masyarakat Jawa disebut Moksa, yaitu sebuah kondisi dimana tubuh menghilang secara fisik ataupun spiritual. Selain di hari-hari biasa, komplek Air Terjun Madakaripura juga ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu seperti tahun baru jawa.



Yang harus diingat oleh para wisatawan yang akan mengunjungi tempat ini, pastikan membawa jaket kedap air atau mantel untuk melindungi tubuh dari tetesan-tetesan air. Selain itu juga bawalah pakaian ganti jika berniat untuk bermain-main di bawah air terjun. Wisatawan juga disarankan untuk membawa bekal yang cukup, serta tidak membuang sampah sembarangan.

Tuesday, January 20, 2015

Menikmati Kepingan Kisah Ramayana di Gua Kiskenda Yogyakarta

Kisah epik Ramayana yang mengisahkan tentang Rama dan Shinta sudah sangat terkenal, sebagai salah satu kisah yang menceritakan tentang cinta sejati. Sebagai wilayah yang mempunyai kedekatan spiritual dengan kisah-kisah pewayangan tersebut, beberapa tempat yang ada di dalam kisah tersebut konon ada di dunia nyata. Salah satunya berada di Yogyakarta, tepatnya Gua Kiskenda yang merupakan kerajaan dari Raja Kera Subali dan Sugriwa yang muncul dalam kisah Ramayana. Gua Kiskenda terletak sebelah barat dari pusat kota Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Kulon Progo, di sebuah pegunungan bernama Pegunungan Menoreh yang menjadi batas antara Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah.
Wisatawan langsung disambut dengan relief cukup besar yang mengisahkan tentang kisah epik Ramayana tersebut. Relief tersebut terpahat di tebing-tebing batu yang berdekatan dengan pintu masuk menuju ke dalam gua. Ketika memasuki gua, wisatawan tidak hanya akan menikmati pemandangan gua tetapi juga menikmati kepingan demi kepingan kisah yang kemudian merangkai cerita epik Ramayana. Maka akan lebih baik jika para wisatawan yang ingin mengunjungi gua ini untuk membaca kisah Ramayana terlebih dahulu untuk lebih dapat merasakan sebuah pengalaman memasuki dunia masa lampau. Akan tetapi jikalau tidak ada waktu untuk mempelajari kisah tersebut terlebih dahulu juga tidak mengapa.


Sekilas dari mulut gua, tempat ini terkesan tak terawat karena banyak terdapat sarang laba-laba di mulut gua, dan juga akar-akar pohon besar yang menjuntai hingga mencapai pintu masuk gua. Akan tetapi ketika telah memasuki gua kesan itu seketika hilang karena di dalam gua wisatawan akan menemui kemudahan dalam menyusuri gua, seperti jalur khusus yang memudahkan wisatawan untuk melangkahkan kaki tanpa takut terpeleset. Selain itu stalagtit dan stalagmit yang meneteskan air juga masih banyak terdapat di gua ini sehingga gua ini menjadi semakin menyenangkan untuk ditelusuri.
Seorang pemandu akan menemani dan menjelaskan setiap bagian yang ada di dalam gua ini sekaligus menceritakan awal mula gua ini menjadi kerajaan kera. Dikisahkan Mahesasura dan Lembusura, kakak beradik berkepala kerbau yang berkelahi melawan Kera Subali, sementara Sugriwa menunggu di luar gua. Kisah yang diceritakan oleh pemandu benar-benar lebih dari dongeng karena langsung berada di lokasi kejadian. Di dalam Gua Kiskenda ini terdapat sekitar sembilan lokasi yang sering digunakan untuk bertapa, yaitu Pertapaan Tledek, Kusuman, Padasan, Santri Tani, Semelong, Lumbung Kampek, Selumbung, Seterbang, dan Sekandang.

Dengan semua hal tersebut di atas yang ditawarkan oleh Gua Kiskenda, tentunya tempat ini bisa menjadi salah satu tempat wisata terbaik yang masuk ke dalam agenda wisata. Karena tidak hanya gua ini, masih banyak objek wisata yang ada di deretan Pegunungan Menoreh seperti Desa Wisata Kalibiru, Waduk Sermo, ataupun Puncak Suroloyo yang jaraknya saling berdekatan satu sama lain. Pemandangan alam yang indah dipadukan dengan kisah epik yang legendaris, adakah kombinasi yang lebih menarik daripada dua hal tersebut?



Sunday, January 18, 2015

Menelusuri Situs Purba di Gunung Muria Jawa Tengah

Sangiran merupakan salah satu situs manusia purba yang sangat terkenal di dunia yang ada di Jawa Tengah, namun ternyata situs purba di Jawa Tengah bukan hanya Sangiran karena masih ada situs purba lain yaitu situs Patiayam yang ada di Gunung Muria. Situs Patiayam terletak di Pegunungan Patiayam, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dan masuk dalam wilayah Gunung Muria. Selain Situs Patiayam, di Gunung Muria juga terdapat makam Sunan Muria salah satu Walisongo.
Di situs Patiayam ini sudah ditemukan ribuan fosil-fosil yang sebagian sudah disimpan di Museum Ronggowarsito, dan sebagian lagi disimpan di rumah-rumah penduduk. Fosil-fosil yang ditemukan di Situs Patiayam masih tergolong utuh dan hal tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan situs Patiayam dan fosilnya istimewa. Situs Patiayam merupakan salah satu situs purba yang lengkap karena di situs tersebut sudah ditemukan fosil manusia purba dan perlengkapannya serta hewan vertebrata dan invertebrata.

Situs purba Patiayam telah ditetapkan menjadi warisan cagar budaya pada tahun 2005 lalu oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Beberapa fosil yang ditemukan di situs ini kebanyakan adalah fosil-fosil hewan purba sperti kerbau, gajah, buaya, kura-kura, babi hutan, kerang laut, dan juga kudanil. Karena begitu banyaknya fosil yang ditemukan di situs ini, sebuah bangunan khusus juga telah didirikan sebagai tempat penyimpanan fosil dari Patiayam, yaitu Museum Fosil Patiayam yang masih sangat sederhana.
Museum ini terletak tidak jauh dari lokasi situs Patiayam, dan hingga saat ini fosil yang ada di museum tersebut diperkirakan mencapai 13.000 fosil dengan usia antara 700.000 sampai 1.000,000 tahun. Sebagai situs prasejarah, pengunjung yang datang ke tempat ini akan merasakan suasana purba dengan menjelajahi situs purbakala yang luas ini. Di tempat ini pengunjung dan wisatawan bisa mempelajari kebudayaan purba Indonesia.

Untuk menemukan situs ini tidaklah sulit karena situs ini sendiri terletak di Gunung Muria yang setiap waktu banyak dikunjungi wisatawan. Dengan jarak hanya sekitar 18 km dari kota Kudus, pengunjung bisa menggunakan moda transportasi apapun untuk mencapai lokasi ini. Jangan lewatkan kuliner khas Kudus seperti Soto Ayam Kudus, atau jika ingin berbelanja jangan lewatkan untuk mampir di Pasar Kliwon atau Shoping Centre Jepara.

Sunday, January 4, 2015

Candi Sukuh, Pesona Piramid di Pulau Jawa

Pesona peninggalan Suku Maya yang berbentuk piramid terpenggal memang sangat kuat, tetapi ternyata masyarakat Indonesia tidak perlu jauh-jauh mengunjungi situs Maya di Benua Amerika sana, karena ada peninggalan sejarah yang tidak jauh berbeda dengan peninggalan Suku Maya tersebut. Adalah Candi Sukuh, yang terletak di Pedukuhan Berjo, Desa Sukuh, Kabupaten Karanganyar - tepatnya terletak di lereng Gunung Lawu di ketinggian kurang lebih 1.186 mdpl. Dengan ketinggian tersebut tentunya suasana di sekitar Candi Sukuh terasa sangat sejuk.
Candi ini konon merupakan peninggalan terakhir Kerajaam Majapahit. Akan tetapi, Candi Sukuh ini terlihat sangat berbeda dengan kebanyakan candi yang ada di Indonesia yang biasanya berbentuk membulat atau meruncing. Alih-alih meruncing seperti karakteristik candi-candi buatan kerajaan yang berasal dari Jawa Timur, Candi Sukuh malah mempunyai bentuk menyerupai piramid dengan puncak yang terpotong. Sangat mirip dengan bangunan peninggalan Suku Maya.
Akan tetapi justru itulah salah satu keunikan Candi Sukuh, yang tentu saja menjadikan candi ini sebagai salah satu objek wisata terbaik yang ada di Jawa Tengah. Candi ini juga mempunyai keunikan lain dengan adanya lingga dan yoni, yang merupakan simbol pria dan wanita. Seorang arkeolog asal Belanda yang bernama W.F. Stutterheim berpendapat bahwa kemungkinan Candi Sukuh dibuat bukan oleh pengrajin batu, tetapi oleh tukang kayu. Hal ini disebabkan karena kurang rapinya pengerjaan candi tersebut, yang ditengarai disebabkan oleh keadaan politik waktu itu.
Tetapi terlepas dari hal itu, Candi Sukuh sangat cocok dijadikan destinasi wisata dengan pemandangan lereng pegunungan yang khas dan menenangkan. Berjarak kurang lebih 20 km dari kota Karanganyar, pengunjung dipastikan tidak akan menemui kesulitan untuk pergi ke candi ini. Dari terminal Tirtonadi Solo, wisatawan bisa memilih menggunakan bus jurusan Solo - Tawangmangu, kemudian turun di Karang Pandan. Setelah itu dengan moda bus mini menuju Kemuning, setelah itu dengan ojek menuju kompleks candi. Jika memilih menggunakan kendaraan sendiri, pastikan kendaraan yang digunakan dalam keadaan kondisi prima karena kondisi jalanan yang cukup curam dan menanjak.
Menariknya, wisatawan juga akan menemukan candi lain di dekat situs Candi Sukuh, yaitu Candi Cetho yang terletak sekitar kurang lebih empat kilometer. Candi Cetho ini dikelilingi oleh hutan pinus yang tentunya menambah eksotisme pemandangan di kompleks candi. Selain itu terdapat juga air terjun Parangijo yang tidak jauh dari Candi Cetho. Dengan berbagai objek wisata menarik yang ada, tentunya menjadikan kompleks candi ini sebagai tempat wisata terbaik yang masuk ke dalam agenda wisata.

Thursday, December 25, 2014

Mengenal Kearifan Lokal Suku Dayak di Rumah Betang

Rumah Betang merupakan sebuah rumah tradisional yang terletak di dekat Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, dan dari Rumah Betang ini wisatawan akan mendapatkan pelajaran yang bagus tentang kearifan lokal Suku Dayak yang khas; lembut tapi perkasa. Rumah Betang merupakan rumah yang berisi sekitar 50 ruangan, dan menjadikan rumah tradisional Dayak ini sebagai salah satu rumah yang terpanjang. Uniknya, Rumah Betang merupakan rumah yang konon sudah dibangun berabad-abad lalu akan tetapi masih mempunyai ketahanan yang luar biasa; hal ini disebabkan salah satunya karena penggunaan kayu ulin yang sangat kuat.
Rumah Betang dihuni oleh beberapa keluarga sekaligus yang tinggal di ruangan-ruangan tersendiri, tetapi di rumah yang disebut juga sebagai Lamin ini terdapat sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk pertemuan, ritual, atau untuk keperluan adat lainnya. Pemisahan tiap keluarga di tiap ruangan dimaksudkan agar lebih mengorganisir para penghuninya, selain itu rumah tradisional ini juga bisa sebagai representasi rasa saling menghargai dalam perbedaan.
Jika wisatawan ingin merasakan hangatnya penduduk Dayak maka mengunjungi Rumah Betang bisa menjadi pilihan terbaik, karena di tempat ini wisatawan bisa berinteraksi langsung, dan mempelajari kearifan lokal Suku Dayak; filosofi, serta nilai-nilai khas Dayak yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anak generasi selanjutnya. Menyusuri Rumah Betang atau Lamin ini juga merupakan kegiatan yang mengasyikkan, hanya saja wisatawan harus hati-hati saat menaiki tangga karena tangganya tidak sekuat bangunan utama.
Rumah Betang merupakan rumah tradisional dengan model rumah panggung, yang dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan serangan dari binatang buas. Secara keseluruhan Rumah Betang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Ruai atau Pandopo yang merupakan ruangan luas tidak bersekat yang digunakan untuk keperluan umum, kemudian ruangan yang berbilik-bilik yang merupakan kamar-kamar tiap keluarga, serta sebuah ruangan lagi.
Rumah Betang di dekat Sungai Kapuas telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan. Rumah-rumah Betang tersebut terletak di Dusun Sunge Uluk Apalin, Desa Nyagau, Kecamatan Embaloh Hilir, Kecamatan Putussibau, dan di Kecamatan Embaloh Hulu. Dengan dijadikannya sebagai Cagar Budaya, Rumah Betang merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dijaga kelestariannya.
(sumber: Indonesia Travel)

Monday, December 8, 2014

Menyibak Pesona Banyuwangi

Banyuwangi, kota di ujung timur pulau Jawa tersebut memang unik dan mempesona; seakan merupakan kombinasi yang luar biasa dari Bali, Jawa, dan Madura yang membuat Banyuwangi mempunyai potensi lengkap dalam hal pariwisata, seperti ungkapan "dari timur terbit cahaya." Juga dalam kekayaan budaya, dimana salah satu suku tua masih eksis sampai sekarang yaitu Suku Osing yang mempunyai kebudayaan yang menarik untuk dipelajari.
Banyuwangi merupakan salah satu tempat liburan terbaik yang bisa dijadikan sebagai tujuan utama, karena banyaknya tujuan wisata di tempat ini, beberapa diantaranya bahkan mempunyai tantangan tersendiri bagi para penggemar wisata petualangan. Hutan-hutan mistis seolah merupakan surga tersembuyi, pantai dengan ombak kelas dunia yang sering digunakan untuk kegiatan berselancar, padang rumput yang luas, kawah Gunung Ijen yang unik, ataupun tempat penyu berkembang biak. Semuanya ada di Banyuwangi.
Wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi tak perlu bingun untuk mengunjungi mana tempat yang harus dikunjungi pertama kali, karena manapun obyek yang dikunjungi pertama kali tetap memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda dan menarik. Padang rumput luas yang biasanya hanya ditemukan di Afrika pun bisa dijumpai di Banyuwangi, yang menjadi habitat bagi hewan-hewan eksotis seperti Banteng Jawa, Merak, Rusa, hingga predator macam Macan Tutul.
Sementara bagi wisatawan yang ingin mengalami sensasi sedikit mistis, Taman Nasioanal Alas Purwo bisa menjadi pilihan yang tepat, atau Taman Nasional Meru Betiri. Singkatnya, sangat mudah untuk menikmati pesona Banyuwangi, bahkan wisatawan pun bisa mencari info lengkap tentang Banyuwangi melalui aplikasi smartphone berbasis Android yang bernama "Banyuwangi Tourism." 

Sebagai salah satu wisata terbaik di Jawa Timur, obyek wisata di Banyuwangi juga menawarkan kuliner khas Banyuwangi yang tentunya sayang untuk dilewatkan, yaitu Rujak Soto yang merupakan kombinasi dari Rujak Cingur dan Soto Babat. Dan tentunya masih banyak pilihan menu yang lain seperti Sego Tempong, Sego Cawuk, Sate Kalak, Pecel Pitik, dan lain-lain. (Foto: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi).

Friday, December 5, 2014

Eksotisme Desa Tradisional Compang Ruteng

Desa Compang Ruteng adalah salah satu desa tradisional yang masih tersisa di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur yang masih mempertahankan tradisinya yang eksotis. Salah satu ciri khas di Desa Compang Ruteng ini adalah masih terdapat batu compang, sebutan untuk altar batu yang seringkali ditemukan di halaman rumah adat tradisional masyarakat Manggarai. Salah satu fungsi batu compang ini adalah sebagai tempat untuk menyembelih hewan kurban semisal sapi atau kerbau.
Desa Compang Ruteng terletak di Desa Pu'u Ruteng, Kecamatan Golo Dukal, Manggarai, Flores, Nus Tenggara Timur. Desa ini dinamai Compang Ruteng karena adanya batu compang itu dan sebuah pohon beringin besar dan tumbuh di tengah-tengah batu compang tersebut, meskipun saat ini pohon beringin tersebut sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan pohon dadap. 
Sebagai desa tradisional, pengunjung yang datang bisa menikmati eksotisme salah satu kekayaan budaya Indonesia, dengan langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Pengunjung atau wisatawan juga bisa memasuki rumah tradisional yang disebut dengan Rumah Gendang dan mengamati secara detail struktur, karakteristik, atau ciri khas rumah adat masyarakat Manggarai. Pengunjung akan disambut dengan upacara tadisional penyambutan tamu, dan pengunjung harus mematuhi dan mengikuti serangkaian proses ritual masyarakat Manggarai.
Meskipun desa tradisional Compang Ruteng ini dibuka untuk umum, tidak terdapat fasilitas umum seperti tempat wisata lain mengingat desa ini lebih menjaga tradisi dan orisinalitas desa Compang Ruteng. Jika wisatawan atau pengunjung ingin membeli suvenir untuk oleh-oleh, pengunjung bisa membeli suvenir di pusat perbelanjaan di pusat kota Ruteng. Warung makan pun hanya dijumpai di pusat kota Ruteng, yang menyajikan menu berbagai jenis masakan dari Indonesia maupun Cina.
Bagi para penggemar wisata alam ataupun wisata budaya, Desa Compang Ruteng bisa dijadikan sebagai alternatif destinasi wisata terbaik di Nusa Tenggara Timur selain tentunya mengunjungi Pulau Komodo. 

Thursday, December 4, 2014

Eloknya Desa Wisata Kedisan di Tepi Danau Batur

Konon penduduk Bali modern mayoritas adalah penduduk yang berasal dari Pulau Jawa yang eksodus besar-besaran ke Pulau Bali akibat mundurnya pengaruh Kerajaan Majapahit pada abad ke-16 yang lalu, sementara penduduk asli Pulau Bali konon saat ini mendiami daerah di sekitar Danau Batur, yang berada di dataran tinggi yang lokasinya sangat dekat dengan Gunung Batur. 
Akan tetapi terlepas dari hal itu, menikmati eloknya pemandangan Danau Batur sekaligus Gunung Batur tidak akan bisa lebih baik dari sebuah desa wisata yang terletak tepat di pinggir Danau Batur, yaitu sebuah desa yang bernama Desa Kedisan, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Kintamani. Wisata alam menjadi potensi utama yang sangat bisa diandalkan, mengingat abu vulkanik dari Gunung Batur menyebabkan lahan di sekitarnya menjadi subur sehingga cocok untuk pertanian, dan juga potensi ikan air tawar di Danau Batur.
Kegiatan yang bisa dilakukan oleh wisatawan di Desa Kedisan diantaranya adalah trekking, bersepeda berkeliling danau, ataupun menyusuri danau. Sebuah restoran apung yang menjadi salah satu ikon Desa Kedisan juga tidak bisa dilewatkan begitu saja. Bagi penggemar kegiatan mendaki gunung, Desa Kedisan juga bisa dijadikan sebagai tempat singgah sebelum melakukan perjalanan naik ke Gunung Batur. Bukan Pulau Bali jika tempat ini tak mempunyai kegiatan yang bersifat kebudayaan karena pada saat-saat tertentu, yaitu pada bulan Agustus - September di Desa Kedisan akan diadakan upacara Ngusabha Tegen.
Ngusabha Tegen adalah sebuah upacara yang dilakukan oleh penduduk desa untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh dewi kesuburan yang berdiam di Pura Dalem Prajapati. Sebagai desa wisata, Desa Kedisan juga merupakan daerah penghasil kerajinan patung dari kayu yang sudah dimulai sejak era 70an. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Desa Kedisan, disarankan untuk memakai pakaian yang cocok dengan kondisi alamnya yang berada di dataran tinggi. Saat yang tepat untuk menikmati pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur dari Desa Kedisan adalah pada saat musim kemarau karena saat musim hujan kondisi jalur perjalanan menjadi lebih licin.
Desa ini juga dekat dengan desa legendaris Desa Trunyan. Apabila ingin menyempatkan diri ke Desa Trunyan untuk menyaksikan penguburan mayat khas Bali lebih baik untuk mewaspadai calo yang seringkali meminta bayaran lebih ke wisatawan. Sebagai desa wisata, Desa Kedisan mempunyai fasilitas umum yang cukup lengkap, dari restoran, hotel, pasar, sampai toko suvenir. Desa wisata Kedisan bisa menjadi salah satu alternatif wisata terbaik yang ada di Bali jika ingin melihat potensi wisata Bali selain wisata pantai.

Wednesday, December 3, 2014

Mengenal Budaya Indonesia Lebih Dekat di Taman Nusa Bali

Jakarta mungkin mempunyai Taman Mini Indonesia Indah yang di dalamnya terdapat pengetahuan tentang seluruh kebudayaan asli Indonesia, akan tetapi Bali juga mempunyai Taman Nusa, sebuah tempat yang sangat bagus untuk mempelajari tentang seni arsitektur bangunan khas Indonesia, serta perkembangan arsitektur Indonesia dari masa ke masa. Tempat ini bisa dijadikan sebagai alternatif liburan terbaik yang bisa disinggahi ketika sedang berada di Pulau Bali.
Taman Nusa yang baru dibuka pada 10 Juli 2013 lalu ini terletak di Desa Sidan, Gianyar, Bali dengan luas keseluruhan mencapai 15 hektar. Taman ini terletak di tempat yang sangat indah, karena mempunyai latar belakang pegunungan hijau, areal persawahan yang luas, hutan, serta sebuah sungai yang dikenal dengan nama Sungai Melangit. Bagi penggemar wisata seni, Taman Nusa bisa menjadi salah satu tempat wisata terbaik yang bisa dikunjungi di Bali.
Salah satu yang menarik dari Taman Nusa ini adalah Kampung Budaya, yaitu salah satu bagian di dalam Taman Nusa yang menampilkan 60 jenis rumah-rumah tradisional yang terlihat indah karena ditata dengan sedemikian rupa. Rumah-rumah tradisional tersebut merupakan rumah-rumah tradisional dari berbagai suku yang ada di Indonesia, bahkan terdapat pula contoh bangunan yang sudah terkena pengaruh kebudayaan asing, seperti Cina, Arab, dan juga Eropa.
Sebagai salah satu tujuan wisata yang belum lama beroperasi, pihak pengelola Taman Nusa berencana akan mendatangkan orang-orang dari berbagai suku yang ada di Indonesia untuk dijadikan karyawan. Selain itu, sanggar dan tempat untuk pementasan seni tradisional juga akan dibangun di Taman Nusa ini. Sampai saat ini di dalam Taman Nusa terdapat auditorium, ruang pameran, toko suvenir, tempat istirahat, sanggar, dan juga restoran yang menawarkan menu-menu dari berbagai daerah di Indonesia, serta restoran yang menyajikan menu-menu internasional.
Taman Nusa sangat cocok dikunjungi oleh para pelajar untuk mengenal lebih dekat kebudayaan Indonesia dari sisi yang lain, ataupun sebagai tempat liburan terbaik yang bisa dikunjungi oleh keluarga. Tempatnya tidak sulit dijangkau, hanya membutuhkan waktu paling lama satu jam dari pusat kota Denpasar menuju Gianyar. Tidak sulit menemukan Gianyar, karena Gianyar sudah terkenal dengan potensinya antara lain Ubud, dan pemandangan sawah bertingkat yang sudah terkenal juga banyak ditemukan di Gianyar. Informasi lebih lengkap tentang Taman Nusa Bali bisa mengunjungi web resminya di sini. (Photo: taman-nusa.com)

Thursday, November 13, 2014

Menengok Pesona Vihara Tertua di Jakarta Barat

Jakarta dengan segala kemajuan modernitasnya mungkin memang tidak banyak menawarkan sesuatu yang bisa menawarkan sesuatu yang 'klasik', tetapi dengan sedikit usaha tempat ini mungkin akan menjadi salah satu tempat liburan terbaik yang bisa dihabiskan di tengah-tengah hiruk pikuk kota Jakarta, yaitu dengan mengunjungi Vihara Dharma Bhakti yang merupakan vihara tertua di daerah Jakarta Barat.
Vihara berusia sekitar 350 tahun ini berdiri di area seluas 3000 m2 dan merupakan yang tertua dari tiga vihara tertua di Jakarta yang masih berfungsi. Vihara ini dibangun pada tahun 1650, dan pertama kali diberi nama Vihara Koan Im Teng. Meskipun sempat terbakar pada tragedi pembantaian etnis Tionghoa pada tahun 1740, vihara ini kemudian dibangun kembali pada tahun 1755. Vihara ini termasuk unik karena digunakan oleh beberapa penganut Taois, Confucianis, dan juga Budha Mahayana.
Berdekatan dengan Vihara Dharma Bhakti juga terdapat dua vihara lain yang bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki karena memang letaknya tidak berjauhan satu sama lain. Vihara tersebut adalah Vihara Tanda Bhakti dan Vihara Dharma Jaya. Ketiga vihara tersebut mempunyai ciri khas masing-masing sehingga dipastikan pengunjung tidak akan merasa bosan. 

Sebagai destinasi wisata yang berupa wisata religi, di tempat ini banyak dijumpai peminta-minta yang menunggu belas kasihan pengunjung. Tetapi pengelola vihara menghimbau pada pengunjung tidak memberi sumbangan langsung pada pengemis tersebut karena pengelola sudah menyediakan tempat khusus bagi orang yang beribadah untuk memberi sumbangan. Sebagai tempat yang berlokasi di Jakarta, tidak terlalu sulit untuk menemukan kompleks vihara ini, karena vihara ini terletak di Jl. Kemenangan III no. 13 (Petak 9) Glodok, Jakarta Barat.